logo

Teropong Senayan

Jumat, 22 September 2017 | Edisi : Indonesia
Aktifitas Komisi

Mesin PG Usang, Komisi IV Sebut Penyebab Rendemen Tebu Turun

Minggu, 11 Jun 2017 - 20:29:35 WIB
Ferdiansyah , TEROPONGSENAYAN
30066 Komisi iv TIR_3564.JPG
Sumber foto : Istimewa
Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo saat memimpin kunjungan spesifik ke pabrik gula Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (8/6/2017)

KARANGANYAR (TEROPONGSENAYAN)--
Persoalan perkebunan tebu di pabrik gula Tasikmadu, Karanganyar, didorong DPR untuk segera diselesaikan. Mesin pabrik yang sudah usang serta kendala di on farm yang menyebabkan rendemen tebu semakin menurun adalah persoalan utama yang harus dibenahi.

Demikian dikatakan Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo saat memimpin kunjungan spesifik ke pabrik gula Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (8/6/2017).

"Jadi batas maksimal rendemen tebu adalah 6-7 tahun untuk dibongkar ratoon sementara di sini sudah melebihi baru dibongkar, terlebih lagi mesinnya sudah tua. Oleh karena itulah dua hal ini harus kita sinergikan," kata Edhy.

Pada pertemuan selain dihadiri manajemen PG Tasikmadu juga dihadiri oleh Bupati Karanganyar, Dirjen Perkebunan dan Dirut PTPN IX.

Selain itu, terkait permasalahan petani yang kurang bergairah dalam bertani akibat harga gula yang dipatok rendah, politisi asal F-gerindra itu minta jangan dijadikan kambing hitam atau alasan untuk mengimpor.

“Menurut saya ini hanya masalah komunikasi, janganlah kita mencari kambing hitam kemudian kita mengimpor. Situasi kondisi pangan yang ujungnya selalu mencari kambing hitam itu hanya menjadi peluang untuk impor. Peluang dan potensi kita di negara kita tersedia tinggal bagaimana seorang pemimpin mampu untuk mewujudkannya,” ungkapnya.

Sebelumnya Direktur Utama PTPN IX Budi Adi Prabowo mengadukan selama ini petani memilih tidak lagi menanam tebu karena sisi ekonominya tak lagi menjanjikan. Petani tebu merasa tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, sebagaimana diberikan kepada petani tanaman pangan. Sampai sekarang tidak ada lagi kredit untuk petani tebu, perbankan masih memandang sebelah mata.

‘’Begitu pula bantuan alat pertanian yang bisa mendukung peningkatan petani, juga sudah tak ada lagi. Belum lagi ketersediaan bibit yang unggul sudah tidak ada lagi. Penelitian bibit untuk tebu untuk dikembangkan menjadi bibit unggul hampir tak ada lagi,’’ kata dia.(dia)