logo

Teropong Senayan

Sabtu, 24 Agustus 2019 | Edisi : Indonesia

Komisi VII DPR: PLN Salah Kelola, Investigasi Black Out Listrik

Senin, 05 Agu 2019 - 22:16:14 WIB
Fitriani, TEROPONGSENAYAN
tscom_news_photo_1565018174.jpeg
Sumber foto :

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Manajemen PT PLN harus segera mengubah dan memperbaiki perencanaan dan pengelolaan sistem ketenagalistrikan.

Kejadian black out (BO) atau pemadaman total yang dialami masyarakat di Jabotabek, Jabar dan Banten pada Minggu (4/8/2019) mengindikasilan kegagalan PT PLN mengelola sistem ketenagalistrikan dengan baik. 

"Saya menilai ada yang salah pada perencanaan dan pengelolaan sistem ketenagalistrikan oleh PT PLN dengan kejadiam black out pada Minggu (4/8/2019). Sebab, direksi PT PLN pernah memaparkan bahwa sistem ketenagalistrikan Jawa-Bali memiliki cadangan lebih dari 30% sehingga masuk dalam kategori normal. Namun tetap terjadi black out yang tidak bisa diatasi dengan cepat," ujar Sayed Abubakar A Assegaf, Anggota Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (5/8/2019). 

Sayed yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat asal Dapil Riau I ini juga mendesak dilakukan investigasi dan penyelidikan yang mendalam dan tuntas atas terjadinya BO tersebut.

Langkah ini, menurut dia, penting untuk guna mengetahui secara teknis  sehingga menjadi bahan perencanaan dan pengelolaan sistem ketenagalistrikan agar tidak terulang lagi peristiwa BO. Sebab, peristiwa BO telah menimbulkan dampak negatif terhadap ekonomi dan sosial yang merugikan masyarakat luas. 

"Penjelasan Plt Dirut PT PLN mengatakan kejadian black out bukan sabotase, namun murni masalah teknis. Nah ini kan masih menimbulkan pertanyaan bahwa jajaran PT PLN kurang tanggap dan tidak mampu mengantisipasi kejadian black out agar bisa ditangani secara cepat dan tepat. Peristiwa black out yang luas dan tidak bisa ditangani dengan cepat menimbulkan pertanyaan akan kompetensi manajemen PT PLN mengelola sistem ketenagalistrikan," papar Sayed Abubakar A Assegaf. 

Sayed juga mengatakan investigasi teknis dibutuhkan untuk mengetahui mengapa terjadi kerusakan pada unit 1 sampai unit 6 gas turbin PLTGU Suralaya secara bersamaan. Sementara unit 7 gas turbin dikatakan dalam keadaan mati. "Ini tergolong aneh. Karena berdasarkan penjelasan PT PLN selama ini mereka melakukan perawatan secara terjadwal masing-masing unit PLTGU. Nyatanya yang terjadi trip atau rusak bersamaan. Apakah ada faktor kurang anggaran atau usia turbin gas yang tua? Ini harus diungkap," ujar Sayed Abubakar A Assegaf. 

Sayed juga menyoroti upaya pemulihan atau recovery yang tergolong lambat. Setidaknya sejak awal terjadinya BO dibutuhkan waktu sekitar 8 jam lebih untuk memulihkan kembali pasokan listrik. Sehingga mengakibatkan terhentinya jaringan ATM, sistem telepon seluler, lampu pengatur lalu lintas, perjalanan MRT, operasional kereta Commuter Line Jabotabek hingga kepanikan penghuni Rumah Susun, Apartemen, hotel maupun rumah tangga secara luas. 

"Kita perlu penjelasan PT PLN mengapa begitu lambat mengatasi kejadian black out. Apakah ada kesalahan dalam sistem transmisi dan jaringam ketenagalistrikan yang ada selama ini? Mengapa pasokan dari unit pembangkit dari Jawa Timur dan Jawa Tengah tidak bisa disalurkan dengan cepat mengingat sistem Jawa-Bali sudah terinterkoneksi. Bahkan juga terinterkoneksi dengan sistem Sumatera. Mengapa black out begitu luas? Mengapa saat blcak out tidak secara otomatis membentuk sistem kelistrikan yang kecil-kecil agar black out tidak meluas dan pemulihan bisa dilakukan dengan cepat dan tepat?," ujar Sayed Abubakar A Assegaf.